| |
Ke Candi Ratu Boko Lagi
08 September 2009, 10:44:57
Kali ini tanpa Shakti. Mestinya kakinya masih sakit akibat kecelakaan tunggal beberapa waktu lalu. Cepet sembuh ya Shak!
Sekarang giliran jalan bareng Aatha, Destya, dan Ayu. Biasa... foto-foto dan sekalian bawa kostum siapa tahu memang pantas dipasang di karpet merah pelaminan mereka hehehe...
Di tengah acara foto-foto, ketemu teman kerja Ayu, Mas Dudi yang datang sekeluarga, untuk berwisata disana. Jadilah kami jalan rame-rame.
 ..: Destya: Test Lighting
 ..: Destya & Ayu #1
Rencananya berangkat sepagi mungkin; tapi akhirnya baru bisa keluar rumah setelah matahari naik. Dan setelah sempat sarapan soto daging sapi di daerah Kalasan, akhirnya kami bisa sampai juga ke kawasan Candi Boko.
Harga tiket sekarang sudah naik. Satu orang 10.000 rupiah ditambah parkir motor 2000/kendaraan; dan masih nambah 2000 rupiah lagi per kamera.
Kalau motor memang kelihatan jumlahnya. Tapi kalau kamera? Ini sebenarnya selalu jadi masalah dimana-mana. Biasanya kamera tidak pernah dicek jumlahnya. Petugas hanya percaya pada pengakuan pengunjung. Meskipun saya bawa 2 kamera (DSLR dan prossumer) dan Destya bawa 1 kamera prossumer, saya bilang saja bahwa kami membawa 2; karena memang hanya DSLR milik saya dan prossumer milik Destya yang bakal dipakai. Prossumer milik saya hanya dibawa untuk cadangan saja.
Tapi ya gitu… saya bayar 2 tiket untuk kamera tapi hanya dikasih satu lembar tiket saja hehehe...
 ..: Destya & Ayu #2
 ..: Destya & Ayu #3
Dan sebelum kami benar-benar masuk ke kawasan candi, saya tetap celingukan cari pengumuman tentang peraturan memotret. Siapa tahu ada papan petunjuk/pengumumannya. Tapi ternyata tetap tidak ada.
# Di beberapa tempat wisata memang ada aturan memotret. Contohnya di Kalikuning; ada harga sendiri untuk film komersial (1,5 juta rupiah), video komersial (1 juta rupiah), handycam (12.500 rupiah), dan foto (3000 rupiah). Itu harga untuk wisatawan nusantara. Untuk yang mancanegara harganya (urut): 2.5 juta rupiah, 2 juta rupiah, 125 ribu rupiah, 30 ribu rupiah. *Dokumentasi 30 Juli 2008.
# Saya juga ingat waktu tetangga saya cerita bahwa sempat dimintai uang (kalau tidak salah sekitar 300an ribu) waktu foto-foto di Candi Boko. Alasannya karena dicurigai sebagai foto komersial. Itupun hanya karena yang cowok-cowok bawa kamera besar-besar (DSLR berbodi bongsor) dan yang cewek-ceweknya pada berdandan.
BTW, saya juga tetap hati-hati dan siap jawaban jika ditanyai.
Dan benar saja… Di daerah menuju Keputren kami ditanyai oleh satpam yang tiba-tiba datang. Dia curiga jangan-jangan yang kami lakukan adalah pemotretan komersial. Ya mungkin karena saya bawa kamera DSLR dengan blitz besar yang nangkring di atas kamera, ada 2 tripod yang kelihatan diluar, Destya juga pegang kamera, ada beberapa tas besar, dan kami pun berpakaian necis (bukan seperti lagi santai berpiknik hehehe...).
Pak Satpam sempat mengancam kami: "Awas lho, nanti kalau bohong... tahu sendiri..."
Pak Satpam pun sempat bilang: "Ya soalnya kalau cuma motret biasa, peralatannya bukan begitu..."
Kami jadi bingung... Lha wong peralatan yang kami punya ya begini ini je...
Dan dasarnya aja memang kami juga banci kamera alias pada maniak motret dan dipotret hehehe...
Tapi lama-lama setelah kami beri penjelasan ya dia pergi juga; meskipun sebenarnya tetap mengawasi kami dari jauh.
Haduuh... jadi nggak nyaman nih… Tapi lama-lama cuek aja.
Wah... tidak bisa dibayangkan kalau kami jalan-jalan motret bersama teman-teman kami yang lain. Peralatan mereka lebih besar, lebih banyak, dan lebih terlihat canggih. Bisa-bisa tidak ada yang percaya kalau kami hanya pehobi fotografi (amatiran lagi...).
 ..: Malah Dapet Orderan Lain Heheheh...
***
BTW, urusan memotret di tempat umum memang sebenarnya sudah mulai harus ada aturannya. Jika memang sudah ada aturannya berarti tinggal sosialiasi ke masyarakat saja.
Di beberapa tempat di luar negeri ada gedung yang bahkan sama sekali tidak boleh dipotret oleh siapapun. Kalau ketahuan, bisa-bisa kamera kita disita untuk dikosongkan isinya.
Di ajang Olimpiade lalu juga sudah mulai ada kebingungan tentang aturan membawa kamera. Seharusnya para wartawan (yang notabene membawa kamera-kamera superbesar dan canggih) berada di kursi khusus wartawan yang sudah disediakan oleh panitia. Di sisi lain ada beberapa penonton yang membawa kamera besar untuk memotret kegiatan olah raga favoritnya itu. Nah… disini panitia jadi bingung. Apakah si penonton itu murni penonton atau wartawan yang menyamar jadi penonton demi mendapatkan sudut pemotretan yang lain.
Tapi kalau aturannya berbunyi bahwa kita tidak boleh membawa kamera besar ya tetap susah juga. Karena saat ini kamera prossumer atau bahkan kamera pocket sudah mulai bagus-bagus dan dilengkapi dengan fasilitas mega zoom dan mega pixel yang besar. Hasilnya pun tidak kalah dengan kamera pro karena sudah dilengkapi dengan lensa kualitas tinggi.
 ..: Review
 ..: Diskusi Dulu
Lama-lama kasihan juga buat yang punya kamera profesional hehehe... Kemana-mana bakal selalu dicurigai sebagai fotografer profesional. Padahal bisa jadi dia itu hanya sebatas orang yang punya uang banyak lalu beli kamera yang mahal demi hobi (atau demi gengsi). Itu juga kalau beli... Kadang-kadang kamera itu hasil pemberian orang kaya yang baik hati... Whualah...
Memang susah juga memberi batasan mana perilaku fotografi komersial, mana yang hanya iseng-iseng saja.
Menurut saya:
- Kalau memang ada aturan khusus untuk pemotretan, mestinya peringatan terhadap aturan itu diperlihatkan di depan pintu masuk. Misalnya: HARAP IZIN UNTUK FOTOGRAFI KOMERSIAL. Ya seperti di museum saja: DILARANG MEMOTRET. Atau di panggung pementasan kesenian: DILARANG MEMOTRET MENGGUNAKAN BLITZ.
Kalau ada peringatan di pintu depan, mestinya pengunjung yang masuk untuk melakukan pemotretan komersial akan berusaha lapor dulu. Saya yakin masih banyak orang jujur di negeri ini.
- Kalau memang harus membayar sejumlah uang untuk pemotretan komersial, harusnya ada kwitansi/nota tertulis dan ditandatangani oleh keduapihak.
Hal ini juga berlaku untuk pemotretan yang dicurigai komersial namun tidak digunakan untuk komersial. Atau ya berlaku untuk semua saja yang membawa kamera besar. Mungkin kira-kira inti bunyinya begini:
"Saya menyatakan bahwa pemotretan yang kami lakukan hari ini bukan untuk kepentingan komersial seperti yang sudah ditetapkan sebelum pemotretan ini dilakukan."
Kalimat tersebut untuk menghindari jika ternyata hasil pemotretan kita hari itu dibeli/disewa pihak lain untuk sesuatu yang bersifat komersial dikemudian hari.
Atau mungkin begini:
"Saya menyatakan bahwa hasil pemotretan yang kami lakukan hari ini tidak akan digunakan untuk kepentingan komersial setidaknya untuk jangka waktu [sekian] tahun kedepan."
- Tidak ada jaminan bahwa pengunjung yang membawa kamera saku tidak mungkin memotret yang bersifat komersial. Kamera saku sekarang sudah bisa menghasilkan foto yang bagus. Untuk sekedar dimasukkan di koran atau majalah sebagai pelengkap informasi, foto yang dihasilkan kamera saku sudah bisa masuk kategori layak tayang.
- Masih tidak jelas: apa yang dimaksud dengan kamera? Apakah kamera yang ada di telepon selular juga harus dikenai tiket kamera? Kalau iya, bebankan saja di tiket masuk. Pukul rata saja setiap tiket masuk dengan menambah seribu atau dua ribu untuk kamera, karena saat ini hampir semua pengunjung (mulai ABG sampai dewasa) membawa telepon selular berkamera.
- Setidaknya bisa begini: setiap pengunjung yang membawa kamera dan atau melakukan pemotretan selalu dicatat sebelum masuk kawasan wisata (atau tempat lain yang menerapkan aturan fotografi).
Yang dicatat adalah:
- (jika perlu) identitas seluruh pengunjung yang terlibat (terutama fotografer dan atau pemimpin rombongan sebagai pihak yang bertanggungjawab): nama, nomor telepon, alamat, nomor KTP/SIM, dan hal lain yang dianggap penting.
- identitas kamera: merk, jenis, nomor serial.
Jika perlu, pihak pengelola juga ikut memotret atau membuat rekaman video singkat setiap ada session pemotretan sebagai bukti pernah dilakukan pemotretan pada tanggal sekian, jam segitu, dengan model si anu, fotografer si inu, dll, dsb.
Sebenarnya jika pengunjung yang bersangkutan memang sudah tahu bahwa yang dilakukan saat itu benar untuk komersial maka tinggal membayar sejumlah uang yang sudah ditetapkan untuk izinnya.
Tapi jika yang dilakukan saat itu sekedar hunting foto dan belum tahu bisa digunakan untuk komersial atau tidak, ya tinggal tandatangani surat pernyataan seperti yang sudah disebutkan di point 2. Toh jika suatu saat pihak pengelola tempat wisata mengetahui ada foto di media massa yang dicurigai dilakukan di tempatnya, pihak pengelola bisa menelusuri media massa tersebut. Setahu saya setiap media massa mestinya memiliki identitas fotografer yang memasukkan fotonya.
 ..: Jelas?
Menurut saya, mengatasi hal tersebut memang masih sulit karena masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk ketidakjujuran. Kalau itu sih urusan pribadi masing-masing ya. Tapi sebenarnya tetap bisa dibatasi dengan peraturan asalkan sosialiasinya jelas dan kompensasi yang diberikan juga transparan.
 ..: Pulang...
Baca juga: Candi Ratu Boko
Catatan hari ini : Masih penasaran sama sunrise dan sunsetnya Boko.
|
| |
|
1 kukuh
10 September 2009, 11:30
sekarang kan lagi musim bikin RUU to Bram? nek diusulkan tentang RUU Fotografi kayake luwih apik. hehe...birokrasi di Indonesia memang kadang ga masuk akal
|
|
2 bramNih
11 September 2009, 14:31
Besok aku coba hunting ke tempat yang berpeluang konflik... Sapa tau malah jadi bahasan lagi dan lama-lama jadi satu RUU lengkap nih hehehe...
|
|
3 Pejuang
19 September 2009, 16:37
Akademi tempat meriset unit baru. Dengan menambah tingkatan bangunan maka semakin banyak unit yang bisa diriset.
|
|
4 narko
28 October 2009, 01:19
om mau nanya nih... :D kalau kamera yang murah, tapi hasil bisa kaya foto yang di atas tuh kamera apa om...? :D
|
|
5 bramNih
29 October 2009, 13:03
coba kamera prossumer. ya sebenarnya pake kamera pocket yang bagus juga bisa tapi untuk pengaturan macem2nya lebih mudah pake kamera prossumer atau ya DSLR sekalian. ngomong2 murahnya tuh harga berapa?
|
|
6 narko
29 October 2009, 15:45
masalah budget dikit bgt om... xixixi.. mungkin cuma 3an... pengin banget sih yang DSLR... hehehehe...
|
|
7 bramNih
02 November 2009, 10:09
@narko ya kalo gitu coba prossumer aja. kodak gak sampe 3 jt jg dapet. coba cari yang ada pengaturan P,A,S(T),M nya.
|
|
8 Shakti Santoso
26 November 2009, 11:58
hohohohohohohohohoho, keren keren keren, ku suka yg judule PULANG, langite n rumpute uappiiiikkk polllll sip sip sip btw, ku dah ok lagi skarang, dah isa lumayan "pecicilan" huekekekekekeekekek, ini berarti... I'M READYYYYYYYYY huekekekekke take a pose take a pose take a pose ;p watch out yo, i'm coming hohohohohohohohohohoho
|
|
| |
| |
|
|
| |
::
Hunting Lokasi #2 / Hunting Lokasi / Perayaan Peh Cun / Gunung, Pantai, dan Pantai / Perbedaan Ukuran Foto Dicetak / Candi Ratu Boko / Pesona Borobudur / Langit Biru / |
|
| |
|
|