www.cbramono.net

 
 
 
 
 

Pasca Wedding #2: Mengapa Tidak Saling Terbuka
06 February 2009, 11:35:51

Bekerjasama dengan beberapa vendor sebenarnya menjadi alternatif yang patut diperhitungkan. Apalagi jika kita akan mengadakan acara sekelas pernikahan. Acara besar memang membutuhkan banyak orang yang terlibat.
Dan kami pun bekerjasama dengan vendor yang kami anggap cukup profesional menangani acara sekelas pernikahan. Vendor besar yang membantu kami adalah katering, rias busana, dan dekorasi. Kebetulan untuk vendor rias busana dan dekorasi dipegang oleh sebuah keluarga yang berbisnis di bidang tersebut.

cbramono.net
..: Setelah Sakramen Perkawinan [candid by Yerry]

Pada awalnya kami sangat tertarik dengan mereka (vendor rias busana dan dekorasi) karena mempunyai kesan yang profesional, kooperatif, dan selalu menenangkan kami. Ditambah lagi lokasinya yang berdekatan dengan tempat tinggal kami, membuat kami semakin yakin untuk bisa mengerjakan segala hal dengan baik tanpa harus membuang-buang banyak waktu.

Tapi pada kenyataannya, saat hari H, semuanya jadi terbalik. Jujur saja, kami pun mengakui ada kesalahan di pihak kami: pihak keluarga yang mengurusi rias busana seharusnya berkoordinasi dengan tim perias untuk memberitahu siapa-siapa yang menjadi prioritas untuk dirias. Hal ini mestinya didukung oleh koordinator acara yang bertugas untuk memberitahu alokasi waktu kepada saudara-saudara sehingga tidak malas-malasan untuk segera dirias. Dan mestinya koordinator acara juga sering mengingatkan alokasi dan kebutuhan waktu pelaksanaan kepada seluruh petugas yang terlibat.

Namun beberapa hal fatal tetap terjadi (dari sisi rias dan busana):

Beberapa perias mengira acara mulai jam 16.00
Fatal banget… Sudah jelas kami punya draft acara yang sudah disusun secara detail dan kami berikan ke pihak perias jauh hari sebelumnya. Dan jelas disitu tertulis bahwa acara mulai jam 14.00.

cbramono.net
..: Ayoo... Udah Terlambat Nih... [candid by Yerry]



cbramono.net
..: Seharusnya Sudah Berangkat Tapi Belum Selesai Juga [candid by Yerry]

Seragam keluarga mempelai sama dengan seragam penerima tamu
Yudi bingung, seragamnya sama dengan seragam penerima tamu. Pihak perias berjanji akan membuat beda, minimal diberi bros di beskap yang digunakan keluarga mempelai. Nyatanya tidak juga…

Seragam salah satu saksi tidak ditemukan
Payah… padahal semua sudah dijadikan satu di lemari khusus (lemari yang hanya bisa diakses oleh perias sendiri) dan sudah pasti semua ada disitu. Akibatnya saksi yang lain harus berganti seragam untuk menyesuaikan dengan seragam yang baru. Dan sim salabim… ternyata setelah semua acara selesai, dan kami memeriksa di lemari, seragam untuk saksi masih ada disitu. Pegawai mereka memang tidak teliti.

Ada pegawai yang baru kerja 2 hari
Beberapa keluarga kami heran dengan perilaku seorang (mungkin malah lebih) tim perias yang serba kikuk dan seolah tidak tahu harus berbuat apa dengan segala pernik-pernik yang ada ditangannya. Ketika ditanya, ternyata dia mengaku bahwa dia bergabung dengan tim perias tersebut baru beberapa hari; dan sebelumnya belum punya pengalaman apa-apa.

Mungkin hal-hal itu yang menurut kami fatal. Hal yang lain, yang kecil-kecil dan menyentuh personal keluarga, masih banyak sekali.

Belum lagi dari sisi dekorasi:

Penataan red carpet untuk tamu tidak sesuai dengan rencana
Awalnya kami sudah sepakat (bahkan tim dekorasi sudah memberi gambar kepada kami) bahwa red carpet untuk tamu berbentuk: lurus ke depan, kemudian ke samping kiri membentuk sudut sekitar 45 derajat, kemudian ke kanan lagi membentuk sudut sekitar 45 derajat (berarti kembali lurus kedepan). Namun pada kenyataannya: lurus, lalu ke kiri 90 derajat, lalu ke kanan 90 derajat.
Sepertinya memang tidak terlalu masalah. Namun beberapa tamu lebih suka nyelonong ke depan (lurus langsung) ke arah pelaminan; karena disitu juga red carpet yang digunakan untuk upacara adat.
Pada awalnya kami sudah sepakat bahwa jika memang harus menyudut 90 derajat, maka harus ada pembatas yang dipasang supaya tamu tidak nyelonong langsung ke depan. Namun pada kenyataannya tidak ada juga.

Pagar ayu tidak bekerja 2 jam penuh
Pada awalnya, kami ingin bahwa petugas yang bertugas di acara resepsi adalah berasal dari keluarga atau kerabat dekat kami. Namun saat kami bertemu dengan vendor dari dekorasi, disarankan bahwa lebih baik juga menyewa petugas dari luar karena pasti akan bekerja secara profesional. Dalam hal ini mereka menawarkan jasa pagar ayu yang mereka klaim pasti cantik-cantik, dengan tinggi badan yang sama, dan pasti akan berdiri di samping red carpet dekat pelaminan sejak acara mulai sampai acara berlangsung. Mereka bilang bahwa sebaiknya kami menyewa saja karena pasti akan bekerja 2 jam penuh, tidak seperti keluarga sendiri yang kadang-kadang acara resepsi belum selesai namun sudah pada bubar entah itu kecapekan atau cari makan. Pada akhirnya kami hanya menyewa 2 pagar ayu, sedangkan 4 yang lainnya dari keluarga. Tapi entah kenapa, justru pagar ayu yang kami sewa justru sudah selesai bertugas tepat pukul 20.00. Padahal acara resepsi mulai pukul 19.00-21.00.
#waktu saya omong masalah ini ke orang lain, mereka bingung; kok sempat-sempatnya duduk di pelaminan sambil memperhatikan keadaan detail di bawah hehehe… Bukan begitu, saya bisa tahu itu setelah acara selesai. Kebetulan ada teman yang memotret keadaan saat resepsi; dan secara tidak sengaja memotret orang-orang yang sedang mengambil makanan. Karena kebetulan teman saya itu laki-laki, ya jelas cari obyek yang eye catching hehehe… Nah… jepret! Yang kena pas si pagar ayu yang kami sewa tersebut…

Memanfaatkan bunga yang sudah ada di Gereja
Waktu hari H, jelas kami sudah tidak tahu apa-apa mengenai persiapan yang dilakukan on the spot, termasuk saat tim dekorasi men-dekor Gereja. Apalagi tim dekorasi harus bekerja ekstra cepat mengingat bahwa Gereja sudah harus siap pukul 13.45, sementara pukul 10.00 masih ada misa perkawinan juga yang kalau tidak salah baru selesai pukul 12.30.
Saat upacara dimulai, semua tampak indah dan tidak ada masalah. Namun setelah acara selesai dan beberapa hari kemudian kami diundang oleh salah satu teman untuk mengambil foto yang dia ambil, kami diberitahu bahwa bunga yang ada di depan altar itu, yang bagian bawah, ternyata adalah bunga milik suster dari Panti Rapih; dengan kata lain bukan dari tim dekorasi yang bekerjasama dengan kami.
Sebenarnya bukan masalah bagi kelangsungan acara, tapi kenapa tim dekorasi tidak mau bilang bahwa ada bunga yang mereka pinjam dari pihak lain.

Hand bucket flower Aatha hilang Kalau yang ini bukan salah vendor dekorasi, tapi karena keluarga sendiri
Saat di Gereja, Aatha memegang hand bucket flower. Namun karena ada sesuatu hal, maka si bunga tangan itu harus dititipkan sementara ke salah satu saudara. Dan karena baru tersadar setelah di gedung, maka kami pun mulai mencari dengan berbagai cara, termasuk menghubungi personal saudara yang kami titipi bunga tadi. Namun hasilnya nihil. Dan setelah semua acara selesai, kami mencoba mencari dan menghubungi lagi.
Akhirnya mereka mengaku bahwa bunganya lupa dibawa keluar Gereja dan kemungkinan hilang diambil orang. Ya sudah mau apa lagi. Tapi lucunya, saat mereview foto-foto hasil jepretan teman kami, ada salah satu foto yang menunjukkan bahwa bunga yang kami permasalahkan itu ternyata dimasukkan ke dalam mobil saudara kami tersebut.

Listrik: siapa yang bertanggungjawab?
Ada satu vendor lagi yang kami ajak kerjasama yaitu vendor untuk pengadaan tenda. Karena mereka juga menyewakan lampu dan menawarkan genset, maka kami pun pesan sekalian. Sebenarnya kami sempat ingin menyewa genset dari pihak luar karena pemiliknya sudah kami kenal dan harganya juga lebih murah. Kami terpaksa pesan dalam satu vendor dengan alasan untuk mengurangi kemungkinan bentrok (tidak bisa kerjasama) antar vendor.
Namun sayang, genset datang terlambat. Padahal lampu untuk foto, video, dan lampu tenda rumah rencananya akan diambil dari genset. Dengan sangat tergesa-gesa, keluarga Aatha mencari alternatif dengan mencoba loss strum (daya listrik dinaikkan untuk mengantisipasi kekurangan beban listrik). Dan berhasil. Kami pun harus membayar ratusan ribu untuk biaya loss strum. Memang beberapa saat kemudian genset datang dan kami pun bisa menggunakannya dengan baik. BTW, siapa yang bertanggungjawab atas biaya loss strum? Pihak vendor tenda yang menyediakan genset tidak mau bertanggungjawab juga.
NB: belakangan diketahui bahwa yang menyediakan genset ternyata bukan dari vendor tenda tetapi dari vendor dekorasi yang melewatkan order genset ke vendor tenda. Nah mestinya kan vendor dekorasi ikut bertanggungjawab. Tapi mereka terkesan diam saja padahal mengerti masalah ini.

Romansa hari ini : Ah... mengapa tidak saling terbuka...

 
menurut mereka 

 kukuh
16 February 2009, 07:32

memang kadang acara yang kita anggap sudah fix, ternyata masih ada saja yang terlewatkan...tapi ya sudah orang lain tinggal terima beres, hanya kita sendiri yang tahu plus untuk pengalaman ke depan.. hehehehe

 dynax
18 February 2009, 19:54

Pengen banget liat hasil foto weddingnya, ini salah satu bagian yang gak kena kritik.
Kayanya sempurna neh...
Klo ada waktu dan tempat, taku main ke concat, yoo...

 joni
25 May 2009, 20:31

Gitu ya balasanmu sama keluarga??????????
Berani ya???

 drakula
25 May 2009, 20:42

Neh orang gak mikir apa ya ama komentar-komentarnya heh??!!!!!!!!
Gak tau ya loe berurusan ama siapa???!!!

 bramnih
01 June 2009, 08:19

ini kok nanya sendiri trus jawab sendiri sih... hehehe...
apa kabar bung?

 tia
25 June 2009, 13:28

memang terkadang, apa yang direncanakan belum tentu hasilnya semanis rencana itu, apalagi ada banyak pihak yang terkait di dalamnya

sabar ya Bram, itulah bumbu kehidupan

take care

 joni
04 September 2009, 17:31

udah...gk usah sok akrab ama gw!!!!
Ente bisa aja ngeritik kita habis-habisan, tapi ente bisa apa kemaren ama sekarang?
Jangan cuman gaya aja loe...

 bramNih
07 September 2009, 10:41

hahaha.... iya ya... oke deh bung...

 purple
21 January 2010, 22:41

hufff... menjadi semakin khawatir dan mumet, hehehe :)
brarti udah jelas apa yg kudu taksiapin dari skr bram.."become not perfeksionis" hehe

10  bramNih
22 January 2010, 07:53

@purple
yup... dan seharusnya ketika hari H kita tinggal duduk manis...

 
 
nama
email
[tidak akan ditampilkan kembali]
website
komentar
boleh pake: Enter, <b>, <u>, <i>
karakter acak

AB4791SX

 

:: Pasca Wedding #3 (habis): Tetap Hunting / Pasca Wedding #1: Pandangan Kami / Akhir Tahun 2007 (3): Di (Dari) Blitar / Akhir Tahun 2007 (2): Maling di Kereta Eksekutif / Toko Barang Bekas / Lari Pagi Lagi / Pantai Depok / Simpang Jalan Pekerjaan / Valentine 2007 / Sehari Melepas Rutinitas / Soto Concat / Wisuda Aatha /

 
 
bram's menu
home
langkah harian
disisi aatha
berjuang hidup
lewat lensa
contact me
mengikat janji
my photos
 
se-kategori
. pasca wedding #3 (habis): tetap hunting
. pasca wedding #2: mengapa tidak saling terbuka
. pasca wedding #1: pandangan kami
. akhir tahun 2007 (3): di (dari) blitar
. akhir tahun 2007 (2): maling di kereta eksekutif
. toko barang bekas
. lari pagi lagi
. pantai depok
. simpang jalan pekerjaan
. valentine 2007
. sehari melepas rutinitas
. soto concat
. wisuda aatha