| |
Yang Muda Dipandang Sebelah Mata ?!
04 April 2008, 15:03:30
He..he..he.. kayak iklan rokok aja. Memang saya paling suka sama iklan itu. Dari dulu selalu memberi gambaran realita yang paling dekat dengan kita. Kadang maknanya ambigu, tapi selalu tepat sasaran.
Seperti kalimat judul itu, saya pun sering mengalami kasus yang mungkin masih satu tema.
Memang saya sekarang sudah tidak punya status mahasiswa lagi, tapi juga bukan komunitas luar kampus, karena masih harus berperan serta di kampus alias mengajar.
 ..: Parkiran Sering Penuh
Tidak ada aturan pasti, tapi yang jelas ada dua parkiran motor yang berbeda: untuk mahasiswa dan dosen/karyawan. Mungkin banyak yang menyangka saat ini saya sudah pindah parkiran alias sudah tidak parkir di parkiran mahasiswa lagi. Tapi nyatanya nggak begitu. Saya tetap memilih parkir di parkiran mahasiswa. Alasannya: lebih luas; sehingga dalam keadaan paling penuh pun masih dapat tempat yang teduh. Dan yang penting: masih bisa bertemu dengan mahasiswa dan kadang malah jadi tempat curhat (diskusi) hal-hal mengenai urusan kampus maupun urusan luar kampus mereka.
Tapi pernah suatu siang saat saya harus masuk parkiran dosen karena ada kegiatan (termasuk mengajar) sampai sore (NB: parkiran mahasiswa tutup pukul 18.00). Baru saja masuk gerbang depan sudah ditanyai macam-macam oleh satpam yang kebetulan sedang jaga. Tapi setelah saya sebutkan kegiatan yang harus saya kerjakan, maka satpam memperbolehkan saya masuk (BTW saya malah tidak menyebutkan kalau saya akan mengajar he3…). Padahal waktu itu penampilan saya sangat rapi: pakai kemeja dimasukkan, celana kain, dan bersepatu. Karena biasanya kalau rapi lebih mudah dipercaya he3…
#Sangat rapi? Ya menurut saya begitu, karena saya bukan orang yang suka dengan situasi sangat formal. Termasuk berpakaian.
Apalagi di waktu lain saat saya harus kembali masuk parkiran dosen dengan hanya mengenakan kaos berkrah, celana jeans, dan sepatu sandal. Penolakannya lebih keras he3… Ya tapi ketika saya jelaskan pelan-pelan, akhirnya saya masih bisa masuk juga.
Lain tempat, di perpustakaan pusat kampus. Saat ini kalau mahasiswa masuk perpustakaan harus menggunakan kartu mahasiswa yang digesekkan ke scanner khusus (barcode). Suatu kali saya harus masuk perpustakaan karena ada rapat di salah satu ruang di basement. Ketika saya masuk lewat jalan yang tanpa scanner, petugas paling depan perpustakaan langsung menghadang dan dengan muka agak masam menanyai saya: kenapa tidak punya kartu mahasiswa. Namun setelah saya jelaskan dengan tenang, akhirnya petugas perpustakaan malah dengan sangat baik hatinya mengantar ke ruang rapat he3…
Nah bagaimana dengan ini: beberapa kali saat mengajar, sering ada mahasiswa yang izin ditengah-tengah jam kuliah karena harus mengikuti kegiatan yang diadakan dosen lain (biasanya kegiatan wajib, misalnya ujian, demo program, dan lainnya). Padahal menurut saya, ketika akan mengadakan kegiatan wajib, seorang pengajar harus tahu dulu jadwal mahasiswanya. Apakah bentrok dengan kuliah lain atau tidak. Ya kalau cuma sebagian kecil yang bentrok sih memang harus bisa memaksa mahasiswa untuk mengikuti kegiatan yang bobotnya lebih penting. Tapi kalau sebagian besar mahasiswa jadwalnya tabrakan? Apa tetap memaksa dengan alasan sudah tidak ada waktu lain? Apa kebetulan saya jadi korban? Atau hanya karena beraninya memotong jadwal saya saja? Saya sih nggak ambil pusing…
Kemarin ketika saya sudah mengumumkan jadwal pengganti lebih dulu, dan kemudian ternyata ada jadwal kuliah lain yang bentrok menyusul dibelakangnya, saya tetap mengadakan kuliah meskipun hanya dihadiri oleh 5 mahasiswa.
Mungkin kasus diatas hanya sebagian dari beberapa kasus serupa yang saya alami. Kebetulan teman saya pun ada yang mengalami kasus dengan tema serupa. Tapi teman saya itu malah lebih sering emosi, malu, dan kadang-kadang jadi malas jika harus menghadapi situasi yang serupa.
Ngapain emosi? Bikin capek aja. Lagian kan mestinya bukan kita yang malu. Iya nggak?
Makanya setiap menghadapi kasus-kasus begitu saya selalu tenang (ya karena posisinya sebetulnya sudah menang).
Sebentar kita lihat pekerjaan mereka…
Mereka satpam, penjaga garis depan, dan semacamnya. Tugasnya memang menyeleksi siapa yang datang. Dan dimana-mana pasti membuat kita menjadi sedikit kurang nyaman. Bayangkan saja perasaan kita saat mau masuk Mal dan harus menjalani security checking dulu. Kadang kita jengkel karena merasa dicurigai padahal kita tidak merasa membawa barang-barang yang merugikan.
Dan setelah saya pikir-pikir, mungkin kasus-kasus diatas bisa terjadi karena:
- Kumis. Ternyata lumayan berpengaruh. Ibaratnya: saat kumis nggak sempat dibabat, orang lain lebih menunduk. Tapi saat tanpa kumis, semua yang di depan saya masih berani mengangkat dagu. Hihihi… aneh…
- Tampang masih terlalu imut. Huahahahahahaha…. Amit-amit kali… Masih belum pantes jadi orangtua !
- Mereka bukan customer service. Tugas mereka memang harus bisa mencurigai setiap orang. Sebenarnya susah juga lho karena kita hidup di masyarakat yang sangat ramah.
***
Ya jangan samakan dengan pekerjaan yang mengedepankan layanan pelanggan (termasuk customer service). Tugas mereka sangat berat. Selain harus bisa melayani (calon) pelanggan dengan baik, sebisa mungkin juga harus menghapal setiap orang yang datang. Dengan sapaan yang tepat, kita pasti lebih merasa nyaman dan dihargai.
Saya jadi teringat waktu saya ambil gaji di bagian keuangan. Saat itu masih kuliah, saya mengambil honor assisten dosen dan dilayani oleh seorang pegawai perempuan yang masih baru. Setelah beberapa bulan kemudian (hampir setengah tahun) saya mengambil gaji lagi tapi kali ini gaji mengajar.
Baru saja masuk ke bagian keuangan, pegawai tersebut langsung mengenali saya dan langsung mengambil slip gaji dan bilang: “Wah… dulu jadi assisten, sekarang pasti sudah punya assisten ya…”
Saya bingung: kok hapal sih? Kayaknya kita baru ketemu 2 atau 3 kali lho... dan dia kan harus melayani puluhan orang yang berbeda setiap harinya.
Begitu juga kejadian beberapa tahun lalu di sebuah toko komputer di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta. Saya datang untuk membeli kamera digital. Salah satu pegawai yang memang selalu bertugas disana melayani saya sambil mengambilkan brosur daftar kamera sambil bertanya: “Lho, memang kamera yang dulu (sambil menyebutkan merknya) itu buat siapa?”
Wei… kok masih ingat kalau dulu saya pernah beli kamera disitu ya. Padahal udah lama banget lho…
***
Lalu, apakah jika dipandang sebelah mata selalu merugikan? Ntar dulu…
Teman saya yang kebetulan juga menjadi dosen, lebih senang kalau tidak dilibatkan dalam rapat dan pertemuan resmi lainnya. Alasannya: males capek dan males berpendapat. Karena, katanya, berpendapat pun juga tidak didengarkan alias selalu kalah jika ada suara baru yang masuk dan berasal dari senior he3… Padahal belum tentu pendapat yang lebih senior selalu benar.
Ya lumayan lah… dengan tidak selalu ikut rapat, bisa mengerjakan hal lain di luar yang lebih berguna minimal buat diri sendiri he3…
Saya sendiri sering mendapat keuntungan dari tampang saya yang tanggung ini (anak-anak bukan… tua juga belum hihihi…). Dibeberapa tempat berbayar yang membedakan tarif untuk mahasiswa dan umum, saya selalu mendapat tarif mahasiswa. Termasuk ketika renang di daerah Seturan. Karena tidak ditanya identitas mahasiswa, saya bilang saja kalau masih mahasiswa. Discount deh…
***
Saya selalu melihat situasi lingkungan.
Saat saya harus ikut (diundang) pertemuan dengan para senior ya saya tetap berusaha memenuhi undangan. Dan saya juga harus tahu kapasitas saya disitu sebagai apa. Jika hanya sekedar pendengar, ya saya pun hanya bicara saat ditanya. Tapi ketika saya diundang karena memang mereka membutuhkan kemampuan saya, ya saya selalu berusaha membagi ilmu sesuai kebutuhan mereka dan kemampuan saya.
Saat ada urusan kampus yang membutuhkan autentikasi khusus, ya saya harus menunjukkan bahwa saya adalah pengajar, bukan mahasiswa. Sehingga memudahkan dalam mendapatkan fasilitas yang seharusnya bisa saya dapatkan.
Saat saya ketemu dengan seorang mahasiswa di tempat umum, misalnya waktu perjalanan menuju keluar kota si sebuah kereta, saya lebih suka menunjukkan kalau saya adalah web developer, misalnya. Hal tersebut tentu membuat lawan bicara menjadi lebih nyaman karena tidak ada beban mental komunikasi he3…
Catatan hari ini : Yang muda sering dipandang sebelah mata. Tapi yang muda sering juga diberi beban berlebihan karena dianggap masih mampu menangani banyak hal sekaligus. Dengan kata lain, masih mau dibuat repot…
|
| |
|
1 dudu
08 April 2008, 05:30
Sebenerna anak muda itu emang harus berbuat banyak biar tambah pengalaman,tp kalu pengalaman yang ditambah nda guna kayana nda usah dhe,, Tapi jangan pandang sebelah mata untuk anak muda,karna otak2 kreatif itu adana di sana,(hehehehe ya nda pak ??,bapak masih muda atau udah tua nich ??,hihihihihi ) Mungkin besok lagi biar nda di tanya ma satpam kayana mesti pake baju kebersihan,biar nda di tanya,.. tapi kalau masih ditanya ya bilang aja mau membersihkan sampah masyarakat. Untung saya manis,baik hati n tidak sombong, jadi nda pernah ditanya satpam,hahahahahha
|
|
2 oskar ganteng
11 April 2008, 20:07
dunia ini dikuasai tampilan atau kesan dari penampilan. kamu rapi, kamu menguasai dunia. contohlah dosen baru STIK , pak pandhit. rapinya boooo
|
|
3 ace
12 April 2008, 21:51
"Yang muda sering dipandang sebelah mata. Tapi yang muda sering juga diberi beban berlebihan karena dianggap masih mampu menangani banyak hal sekaligus. Dengan kata lain, masih mau dibuat repot…"
Anak2 muda yang kayak gini ini yang banyak dimanfaatkan oleh kaum kapitalis... banyak kerja tapi gaji tak sesuai...
|
|
4 bramNih
17 April 2008, 09:47
@oscar BTW, kamu kan rapi. Tapi...
@ace Makanya kerja sendiri aja. Jangan terlalu ikut orang. Tapi jangan lupa komunikasi dengan yang lingkungan sekitar juga. Bagaimanapun hidup juga butuh relasi.
|
|
5 oskar ganteng
23 April 2008, 08:46
Huss ngaco rapi dan kerja itu dua dunia yang berbeda. Kerja itu nuntut rapi. tapi rapi gak nuntut kerja. coba deh , emang ada bos bos yang pakeannya amburadul. paling om bob sadino doang.
lihat Hitler, Soekarno, Idi Amin, semuanya rapi jali.
steve job dulu amburadul,begitu jadi bos gak amburadul lagi
|
|
6 hendriawan
23 May 2008, 23:39
memang yang muda sering dipandang sebelah mata sering juga saya mengalami itu..tapi kadang yang muda tuh juga dibebani masalah yang berlebihan karena dianggap yang nuda masih mempunyai cukup tenaga untuk menangani masalah berat akhirnya juga sering jadi kambing hitam...emmm...masalah tapang imut?kayaknya nggak deh..he..he..sori..mungkin mas bram ini tipe orang yang suka nabung muka/tampang...jadinya tampangnya nggak boros alias ngirit..hasilnya ya masih nanngung gini..
|
|
7 bramNih
24 May 2008, 12:12
@hendriawan iya bener... yang jelas bukan baby face kan, apalagi baby fish hahaha....
|
|
8 Mang Udin
12 June 2008, 12:04
Haloo.....
|
|
9 agung bm
04 September 2008, 17:37
uhuk uhuk... kancaku wis dadi dosen... Emang enak sih bertampang irit umur, dimana2 mudah cari diskonan (apalagi di jogja). Biarin gitu aja bram soalnya kalo kamu peliara kumiss.. Uuuh UUhh.. ngga kukuu.. Ntar dibilang "masih kecil koq piara kumis". Apa kumisnya aja ya yg kegatelan pengen tumbuh cepet.. :p..
Eniwei, sukses ya menghadapi mahasiswa2. Setuju aku cara pembinaannya dibawa santai aja tapi tetep serius (outputnya optimal). Taulaah spt masa2 kuliah dulu di kampus yg sama..
salam
|
|
| |
| |
|
|
| |
::
Kembali Ke Griya Gayatri / MyName is Webmaster TI / Kewenangan Siapa? / Sisi Lain Bimbingan Di STIK Yos Sudarso / Pemberian Nilai Akhir / Kontroversi Memeriksa Pekerjaan Mahasiswa / Arti Sebuah Penghargaan / Kunjungan Ke STIK Yos Sudarso / Kuliah 3 Jam / Wajib Pendadaran dan Tugas Khusus / Soal Ujian Bikin Stress ? / Ketika Ujian Berlangsung / KKL Surabaya-Bali (Part III-habis) / KKL Surabaya-Bali (Part II) / KKL Surabaya-Bali (Part I) / Ayo Lulus / Mencoba Langkah di USD / |
|
| |
|
|